GusDur & Emansipasi Perempuan


GusDur & Emansipasi Perempuan

Riview Diskusi Via Zoom yang diselenggarakan oleh GUSDURian Purworejo,

23 Juli 2020 Pukul 19:00 WIB  s.d selesai.

Pemateri :

Gus Ahmad Naufa. K.F (Kontributor NU Online, Editor Pesantren.id)

Ibu Wiwin Siti Aminah R (GUSDURian, Co-Founder Srikandi Lintas Iman dan Wakil Direktur ISAis UIN Sunan Kalijaga)

Pertama Penulis sampaikan Terimakasih kepada GUSDURian Purworejo yang telah memfasilitasi ruang belajar saya untuk lebih mengenal Sosok Panutan, Inspirator  yaitu K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Dalam Diskusi kali ini adalah salah satu hikmah dari adanya Wabah Covid-19 ini, karena mungkin jika tidak ada sesuatu yang menyarankan kita untuk dirumah aja atau tidak bertemu secara langsung Diskusi Online seperti ini akan sangat jarang dilakukan, menurut penulis diskusi secara online ini sangat bermanfaat terutama ketika kita mampu memanfaatkannya dengan baik, dan pada masa sekarang ini semoga Covid-19 segera berakhir dan kita semua senantiasa bisa menjalani aktifitas seperti biasanya.

Saya, sampaikan Rasa Syukur bisa bersilahturahim dengan para Pemateri dan GUSDURian Purworejo dll, Salam Takdzim Gus Naufa, Ibu Wiwin yang sudah memberikan ilmunya kepada kita semua.

Pandangan Gus Dur menyikapi Emansipasi Perempuan menurut Gus Naufa yaitu dengan 2 pandangan, yang Pertama Pandangan secara Nasionalis dan kedua secara Religius.

Pandangan secara Nasionalis dengan Kearifan Indonesia : Filsafat Bangsa dan Pancasila dan UUD 1945

Yang diperjuangkan Gusdur  yaitu Nilai-nilai yang di ajaran dalam Islam.

Tuhan tidak melihat status sosial, atau jenis kelamin, Karena Tuhan hanya melihat Ketaqwaannya.

Gusdur, perlawanan beliau lewat humor.

Beliau melakukan nilai-nilai itu dalam keseharian, Gusdur di dalam Rumah tangga memperlakukan istri beliau secara setara.

Ibu Hj. Sinta Nuriyah Wahid (Istri GusDur) bercerita  bahwa Beliau (Gus Dur) menggantikan Popok anaknya, mencuci pakaian, memasak, dan membantu pekerjaan rumah, sesuatu hal yang cukup WOW jika dilakukan oleh laki-laki, padahal zaman itu Gusdur sudah di kenal, Salahsatu Cucu Pendiri NU, penggagas Indonesia namun bisa melakukan hal-hal seperti itu, Tugas domestik bisa dilakukan laki-laki.

Cerita Humor Gusdur di Era Reformasi.

Aktivis Feminis Naek Angkot (semacam ingin naek gunung karena dengan tas ransel besarnya) Ia tidak mendapatkan tempat duduk, dan di bangku depan ada seorang pria, nah pria yg didepan akan berdiri, tp si aktivis perempuan itu bilang jangan mas, saya kuat kok, saya aktivis, saya sering demo sering kemana-mana, kedua kalinya si pria mau berdiri lagi, dengan hal yang sama si aktivis perempuan bicara seperti tadi, dan Yang ketiga kali nya mungkin sip ria sudah geram dengan aktivis perempuan ini, dengan mau berdiri si aktivis tetap melakukan hal yang sama, tetapi si pria menjawab “ wong saya ini mau turun mbak dari tadi, siapa juga yang mau ngasih tempat duduk untuk mbak” Wkwkwkwk  kocak yaa gaes,

Menjadi Feminis yang Proposional, Tidak melewati batas kodratnya sebagai seorang perempuan. Kalo perkembangan zaman sekarang sudah banyak perempuan tampil di depan public, seperti khofifah I.P (Gubernur Jawa Timur) Ia adalah murid Gusdur, Perempuan dari zaman R.A Kartini sudah memperjuangkan untuk mendapatkan porsi dalam peran domestic, dan Perempuan harus mendapat akses pendidikan, Nenek Gusdur Ibu Nyai Nur Khodijah adalah pencetus Pesantren Putri pertama  yaitu Pondok Pesantren di Denanyar –Tebuireng.

Perempuan harus Pinter,Cerdas bukan untuk menyaingi laki-laki, Pentingnya Pendidikan untuk perempuan Salahsatunya adalah ketika perempuan tidak berdaya misalnya dicerai. Atau ditinggal meninggal oleh suaminya, Jadi perempuan bisa menjalankan perannya dengan baik, meski sendiri.  Intinya bagaimana Adanya Agama itu membebaskan kaum Mustadh’afin, Nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Gusdur relevan untuk di teladani.

Pematik yang kedua yaitu Ibu Wiwin Siti Aminah.

Melihat Ide dan Perjuangan Gusdur, Tentang 9 Nilai Perjuangan Gusdur, Tiga diantaranya adalah Kesetaraan, Demokrasi (musyawarah), dan Kemanusiaan.

GUSDUR pembela kaum lemah, marginal, dan tertindas, kelompok minoritas, Perempuan dalam public menckup semua kaum tersebut.

Buku Gusdur Dimata Perempuan (2014) yang ditulis oleh 24 Perempuan yang pernah bercekrama dan bertemu dgn Gusdur.

Padangan Gusdur terhadap Perempuan, GUSDUR Sangat Memuliakan Perempuan.

-Perempuan adalah intisari Pembebasan.

-Q.S Surat Al Hujurat Ayat 13

Yang Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

-Perempuan dan Laki-laki mempunyai kecerdasan intelektual yang sama.

-Perempuan mempunyai kekuatan yang sama secara psikologis.

Pandangan sikap Gusdur secara yuridis dan konsitutional, dimata Hukum Perempuan dan Laki-laki adalah sama.

Implementasi Gusdur.

Dalam Keluarga Gusdur membantu mencuci piring dan pekerjaan domestic lainnya, Gusdur di dalam keluarga selalu membuat keputusan secara musyawarah,di dalam Keluarga juga Gusdur berbagi Peran dengan Ibu Nyai Shinta Nuriyah,Menerapkan pengasuhan bersama dalam Karir Ibu Nyai Shinta dalam menyelesaikan (thesis) di temani oleh Beliau.

GUSDUR mengingingatkan Kesehatan Reproduksi, Ning Alissa di ingatkan ketika mempunyai anak umur 7bln tapi sudah hamil lagi, dan Ning Alissa di ingatkan oleh Gus Dur.

GUSDUR dalam Organisasi (NU)Gusdur wali bagi politisi, Perempuan punya kotribusi pembangunan dan bangsa, di dalam Organisasi bahwa GUSDUR adalah Prionir Gerakan Feminis di Nahdlatul Ulama (NU).

Implementasi Gus Dur di Negara. Diantaranya adalah : Mengenalkan Kata Gender. GBHN (1999-2004),  Menteri  Wanita menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, PUG (Utama Gender) kebijakan penting yg melahirkan 30% kuota Perempuan dalam Pemerintahan, Menolak RUU Ponografi, Beliau menolak tubuh perempuan yg menjadi alat politisasi,Menolak Peraturan daerah yg sifatnya diskriminasi. Ketika salah satu daerah mengajukan peraturan untuk perempuan tidak boleh keluar diatas jam 9 tanpa mahrom, Beliau menolak karena dalam UUD sama-sama punya hak perempuan dan laki-laki,Kepres 2001 direktorat WNI dan badan Hukum Indonesia.

Gimana gaes ? Keren kan diskusinya, inilah salah satu alasan kepana penulis mengagumi dan menjadikan Gus Dur sebagai sosok panutan.

Sesi selanjutnya yaitu Q & A (pertanyaan)
Penulis bertanya “Perempuan dan Pendidikan, Kenapa Banyak lelaki takut kalah saing dengan Perempuan yg berpendidikan?”

Mbah Wahid Hasyim Ayah Gus Dur (1955) memperbolehkan perempuan belajar di fakultas syariah (hukum) untuk menjadi hakim, Kebijakan Ayah Gusdur ketika menjadi Menteri Agama.

Perjuangan Gusdur prihal Perempuan adalah Dengan Jalan Sunyi, tak banyak bicara namun melakukan Implementasi nyata.

Ketika laki-laki melihat perempuan berpendidikan tinggi, secara tidak sadar ia menyatakan harusnya saya lebih tinggi dari perempuan, Suatu hal yg biasa, tidak ada upaya, Bisa saja lelaki menikah dengan seorang yang lebih tinggi pendidikannya, Yang penting kita punya relasi dan kesalingan,Bukan yg satu lebih tinggi dari yg lain, Kasihan perempuan yg cerdas banyak laki2 yg minder, Pandangan Genderrol Peran Gender Laki-laki dan Perempuan, Selain cara pandang personal tetapi ada juga Stigmasisasi sosial di masyarakat, atau pun Ketakutan-ketakutan yg akan muncul dari tekanan sosial dan lingkungan.

Bukan hanya melakukan penyadaran terhadap person tetapi juga ke lembaga-lembaga pemerintah, dan lembaga Agama,Gusdur berbicara pentingnya penyadaran pendidikan kesetaraan Gender, Peningkatan kapasitas ini mengutamakan laki-laki, Gusdur dikategorikan Prionir Gerakan Laki-laki baru.

Ini adalah rangkuman saya dalam diskusi semalam gaes, karena memang penulis senang sekali ketika membahas prihal perempuan, jadi semangat untuk merangkum ini.

Terimakasih teruntuk yang sudah membaca tulisan ini, Semoga Bermanfaat.

 

Salam Silahturahim,

Salam Takdzim.

 

 

Fuji Nur Pauziah 

Komentar

  1. Kalau perbedaan adalah rahmat, kenapa perempuan ingin disamakan dengan laki-laki?

    BalasHapus
  2. Setara itu bukan berarti sama.
    Memperjuangkan kesetaraan Gender bukan berarti menuntut perempuan untuk menjadi sama dengan laki-laki, tetapi mendukung perempuan dan laki-laki agar mendapatkan kesempatan untuk ada dalam posisi yang sejajar.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIR TUHAN - FNP

Terimakasih

Ayo ! Budayakan Membaca