LAYLA-QAIS AL-MAJNUN



LAYLA-QAIS AL-MAJNUN

Kisah Cinta Abadi yang Legendaris
Layla. Boleh jadi itulah nama seorang perempuan yang paling banyak disebut orang sekaligus dijadikan nama bagi anak perempuan. Ia dipakai sebagai lambang sosok perempuan lembut, bersahaja, melankoli dan keelokan yang mempesona. Di dunia Timur Tengah nama ini dikenal luas dalam kisah cinta abadi antara “Qais dan Layla”, atau “Layla-Majnun”. Ada puluhan novel yang menceritakan kisah percintaan Layla-Qais atau "Layla-Majnun". Nama lengkapnya Layla binti Mahdi bin Sa’d bin Ka’b bin Rabi’ah. Sementara nama lengkap kekasih abadinya adalah Qais bin Mulawwih (Mulawwah) bin Muzahim bin ‘Adas bin Rabi’’ah bin Ja’dah bin Ka’b bin Rabi’ah. Sebagian orang menyebut Qais bin Mu’adz dari Kabilah Amir.
Kisah cinta Layla-Qais, dipandang masyarakat sebagai cinta abadi dan legendaris. Sebuah cinta paling indah, menggetarkan, menguras air mata sekaligus merupakan sebuah kisah cinta yang berakhir tragis. Ia telah menginspirasi banyak sastrawan besar dunia untuk menulis kisah cinta abadi yang senafas, seperti Romeo and Juliet, karya William Shakespeare, Romi dan Juli, Magdalena-Stevan, karya Alphose Karr berjudul Sous les Tilleus (Dalam bahasa Perancis berarti, "Di Bawah Pohon Tilia") yang kemudian diterjemahkan atau disadur dengan sangat apik oleh Musthafa al-Manfaluthi, menjadi "Majdulin", dan juga kisah cinta Hayati dan Zainuddin dalam novel terkenal Tenggelamnya Kapal Vanderwijck, karya Buya Hamka yang mengebohkan itu, "Baridin-Ratminah" di Cirebon, Jawa Barat dan lain-lain.
Kisah Cinta Layla-Qais, ditulis oleh sejumlah sastrawan dunia dan sufi besar dari berbagai negara Arab, Persia, Turki, India dan lain-lain dengan versi yang berbeda-beda. Mereka antara lain: Al-Ashmu’i (w. 215 H), Arab, Nizami Ganjavi, Nizam al-Din, (w. 599 H), Persia, Sa’d al-Syirazi (w. 1291 M) Persia, Abd al-Rahman al-Jami (w. 1492 M), Persia , Amir Khasru al-Dihlawi (w. 1325 M), asal Turki kemudian pindah ke Delhi, Ahmad Syauqi (1932 M), Mesir, dan lain-lain.

LAYLA-MAJNUN Kisah Cinta Abadi
Sebagaimana kisah Rabi’ah al-‘Adawiyah, Kisah Layla-Majnun juga kontroversial dari aspek apakah ia riil, menyejarah, ada, atau hanya “legenda”, “dongeng” “simbol” belaka. Apakah ia adalah karya khayali para sastrawan yang dituturkan dari mulut ke mulut, berdasarkan tradisi lisan. Para sastrawan yang menulis kisah ini juga berbeda-beda menuturkan jalan ceritanya. Saya kira dalam hal ini tidaklah penting untuk diperdebatkan keras-keras, sebagaimana juga terhadap kisah Rabi’ah al-‘Adawiyah. Hal yang utama adalah kisah itu sendiri.
Kita mengambil salah satunya saja. Seperti film Gita Cinta di Sekolah, kisah cinta Layla dan Qais juga bermula di sekolah. Qais dan Layla adalah pelajar di sebuah sekolah dengan kelas yang berbeda. Qais kakak kelas. Qais pelajar cerdas dan ganteng. Layla, murid paling cantik dan pintar. Mereka bertemu di sana secara kebetulan, tak disengaja. Mata Qais bertemu mata Layla. Cahaya mata Qais menembus jantung jiwa Layla dan cahaya mata Layla menusuk relung jiwa Qais. Lalu mereka terpenjara oleh sebuah rasa yang asing tetapi indah yang tiba-tiba hadir. Layla dan Qais tak bisa makan, minum dan tak bisa tidur. Mereka disergap oleh rasa selalu ingin bertemu dan bicara manis. Hari-hari dirasakan keduanya seperti berjalan lama atau lambat. Keduanya tiba-tiba menjadi penyair. Mereka mendadak pandai menggubah puisi. Salah satu puisinya yang cukup terkenal adalah ini:
Siangku adalah siang manusia yang lain
Bila malam tiba, tidurku sering terganggu wajahmu
Sepanjang siang aku habiskan untuk perbincangan manis dan harapan-harapan
Dan sepanjang malamku, aku dicekam murung dan kerinduan
Cintaku padamu telah tertanam di relung kalbuku
Jari-jari dua tangan kami merekat erat

Kisah Cinta Abadi
Cinta mereka menyebar. Hampir semua orang mendengar dan heboh. Pandangan mereka beragam. Ada yang menyambut riang, ada pula yang tidak atau acuh saja. Sementara ayah Layla berang dan melarang anak gadisnya itu menjalin cinta dengan Qais. Laki-laki ingusan itu dipandang tak pantas untuk Layla. Tetapi tidak dengan ibu Layla. Ia mengerti perasaan anak putrinya yang terus gelisah, acap murung, menyendiri atau mengigau menyebut nama Qais. Ia memerhatikan tubuh anak gadisnya itu bertambah kurus. Tanpa diketahui suaminya, Layla dibiarkan saja mengunjungi rumah Qais, malam-malam. Dan mereka berdua kemudian saling menumpahkan rindu, dan menangis sampai fajar merekah cerah. Sebelum perpisahan yang menitipkan duka, mereka berjanji saling berkirim surat dan bertemu jika memungkinkan di suatu tempat.
Tetapi sayang, beberapa hari sesudah itu ayah Layla mendengar kabar pertemuan itu, dan ia marah bukan kepalang. Akhirnya Layla dilarang keluar rumah sejak saat itu dan untuk selamanya. Ia bahkan mengancam akan menghukumnya jika keluar rumah dan menemui Qais.
Dan hati Layla luka, bingung, murung dan sering tak mau bicara. Bila malam tiba dan ayah ibunya sudah masuk kamar untuk istirah, Layla mendesahkan rindu kepada Qais dan luka hati : “Duhai cintaku!
Betapa aku merindukan
kebersamaan denganmu
Seperti hari-hari kemarin
Betapa indahnya
Tetapi, kini
O, Aku tak punya daya
Takdir telah memutuskan kita
Untuk terpisah.
Duhai kekasih hatiku,
Apakah kita akan terpisah selamanya.
O, kekasih jiwaku.
Salahkah aku?
Hatiku menangis sepanjang hari sepanjang malam manakala aku memikirkan itu.” Layla sering tak bisa tidur. Jikapun tidur, ia acap terbangun, lalu duduk termangu, melamun dan menundukkan wajahnya sambil memeluk lututnya. Matanya mengembang air mata. Wajah Qais selalu saja ada di matanya.
Qais juga berduka. Ia tak bisa bertemu kekasih hatinya: Layla. Tembok rumah Layla begitu kokoh dan menjulang tinggi. Pikirannya menjadi kacau. Dadanya bergemuruh dan bergetar. Bibirnya selalu menyebut nama Layla. Kadang lirih, kadang berteriak. Ia juga acap melamun dan mentendiri dalam sepi di taman di belakang rumahnya. Ayah Qais mengerti keadaan anaknya. Ia juga berduka, tetapi tak bisa melakukan apa-apa. Ia tak berdaya. Putra tercintanya itu hanya bisa dinasehati agar bersabar dan tak lagi memikirkan Layla.
Pada suatu hari sang ayah ingin mengajak Qais pergi ke Makkah untuk mengobati hatinya. Tetapi kpd Qais, ia bilang akan mengunjungi keluarganya di sana. Ibunya sendiri sudah wafat bbrp waktu lalu. Ayah dan anak yang saling mencintai itu pun berangkat. Manakala tiba di Makkah, ayah mengajaknya menuju ke Masjid al-Haram utk Thawaf, mengelilingi Kakbah, "Baitullah" (Rumah yang dimuliakan).Tiba di latarnya sambil menunjuk ke bangunan kubus itu ia berpesan kpd anaknya: “Lihatlah, semoga engkau menemukan obat bagi sakitmu. Peganglah kiswah (kain penutup) Kakbah dan berdoalah agar Allah menghilangkan rasa cintamu itu.” Mendengar nasihat ayahnya itu, Qais menangis dan tertawa sendiri. Sambil tangannya memegang kelambu Kakbah itu ia berdoa,
“Aku telah menjual ruhku dalam ruang sirkuit rindu-dendam yang menderu-deru.
Isyq (rindu dendam) adalah makananku, tanpa itu aku akan mati. Jangan biarkan  aku tanpa rindu-dendam kepada Layla. Duhai Tuhan, tuangkan air bening rindu. Cemerlangkan mataku dengan celak hitam selamanya. Duhai Tuhan, tambahkan aku rindu kepadanya. Bila umurku pendek, tambahkan rindu itu kepadanya. Duhai Tuhan, tambahkan rinduku kepada Layla, dan jangan biarkan aku melupakan dia selama-lamanya.”
Sementara Qais di Makkah, ayah Layla pusing tujuh keliling melihat anaknya yang tiap hari mengurung diri di kamar. Tak ada cara lain untuk mengatasi keadaan itu kecuali menikahkannya. Singkat cerita, Layla akhirnya dinikahkan ayahnya dengan laki-laki lain, tanpa dia sendiri menyukai apalagi mencintanya. Tetapi ia menerima laki-laki pilihan ayahnya itu tanpa bisa menolaknya. Tradisi yang mengakar di sana akan menghukum anak perempuan, bila ia menolak pilihan orang tua. Tradisi di banyak tempat di dunia sejak zaman klasik, dan selama berabad-abad juga tak membenarkan perempuan menolak kepentingan ayah. Demikian pula pandangan keagamaan yang menegaskan “hak Ijbar” (hak memaksa) ayah atas anak perempuannya untuk menikah dengan pilihan ayah atau kakeknya yang disebut sebagai wali mujbir. Bahkan dalam banyak kasus, anak perempuan gadis dinikahkan ayahnya tanpa sepengetahuan sang anak.
Dalam konteks ini perempuan seperti tak punya hak atas tubuhnya sendiri. Tubuh dan kehendak perempuan diatur dan didefinisikan oleh laki-laki. Jika tidak ada ayah atau kakek, ia dinikahkan oleh adik laki-lakinya. Ibu tak bisa menjadi wali, meskipun dia seorang sarjana dan menghidupi anak-anaknya. Ya perempuan di banyak tradisi dalam keadaan apapun tak punya hak atas tubuh, jiwanya dan hidupnya sendiri. Bila perempuan itu masih gadis/lajang, ia berada di bawah kekuasaan ayah atau kakek, yang disebut wali mujbir. Bila ia menikah ia berada di bawah kekuasaan suami.
Hati dan pikiran Layla terguncang hebat. Tiap malam ia menangis dan luka hatinya semakin dalam. Ia tak ingin bahkan tak rela tubuhnya disentuh laki-laki selain Qais, kekasih hatinya, meski ia suaminya.

Qais menjadi Majnun (gila)
Qais pulang. Hatinya diliputi kerinduan kepada Layla. Sepanjang perjalanan pulang dia banyak membisu. Kedua ayah dan anak itu tidak banyak bicara. Manakala memasuki desa, sang ayah mengajaknya melewati rumah Layla, sekedar menghibur hati anaknya itu. Bibir Qais mengembang senyuman manis. Matanya berbinar-binar menatap mata ayahnya. Dia begitu riang. Begitu sampai di rumah Layla, Qais memeluk dindingnya dan menyenandungkan puisi manis :
Aku menyusuri dinding rumah ini, Ya rumah Layla ini
Aku (memeluk) dan menciumi dinding ini dan dinding itu
Sungguh, bukan dinding rumah ini yang menarik hatiku
Tetapi penghuni rumah ini
Begitu selesai, ayah mengajaknya pulang ke rumah. Sampai di situ keduanya belum mendengar kabar pernikahan Layla.
Tetapi sehari sesudah itu Qais mendengar kabar perkawinan Layla, kekasih hatinya itu. Dadanya berdegup dan bergetar kencang, lidahnya tersekat, kelu. Hati Qais terbakar. Qais jatuh pingsan.Begitu siuman, Qais menangis  menderu-deru, meraung-raung. Sedu sedan Qais sepanjang hari, sepanjang malam sangat memilukan hati yang mendengarnya. Pikiran Qais begitu kacau balau. Ucapannya "ngawur" dan "ngelantur". Kadang tertawa, kadang menangis, kadang sadar.
Qais menyesali diri telah mencintai Layla. Ia sempat mengatakan bahwa Layla tidak setia. Layla bohong, Layla berkhianat dan ia akan menyingkir dari kehidupannya. Katanya:
 “Duhai hatiku, hiduplah menyepi, tinggalkan mencintai orang yang tak setia.” Qais mengekspresikan kekecewaannya itu dalam puisinya:
Aku menyesali apa yang telah terjadi, bagai penyesalan orang yang tertipu saat menjual.” Hatiku tiba-tiba jadi asing
meski bersemayam dalam diri
Ia memanggil-manggil kekasihnya
Tapi dia tak menjawabnya
Duhai harapanku
Biarkan aku bergantung dalam cinta ini
Meski aku sudah mati, tapi aku belum menziarahi kuburanku
Semoga Allah memberimu kedamaian
Duhai harapanku satu-satunya
Dan yang membunuhku
Hingga kelak hari kiamat dan "mahsyar".
Tetapi Qais tak bisa menolak kehadiran cinta itu. Kerinduan dan Cinta itu telah merasuk diam-diam ke dalam hatinya dan kemudian menyatu ke dalam jantung jiwanya. Ia menjadi “gila” (majnun). Qais kemudian mengembara tanpa arah dan membiarkan tubuhnya tak terurus. Rambutnya semrawut dan penuh debu. Ia mengarungi padang pasir yang luas dalam terik matahari yang membakar tubuhnya, seperti panas hatinya yang terbakar oleh cinta kepada Layla. Ia mendaki gunung gemunung dan memasuki hutan-hutan belukar, tanpa manusia. Ia menyendiri, merindu dan menangis. Ia kemudian bersahabat dengan para binatang. Mereka menyayangi Qais, yang manusia itu, dan Qais juga menyayangi mereka. Mereka saling menyayangi. Hari-hari Qais di hutan dilalui bersama para binatang itu: ada rusa, domba, kelinci, singa dan lain-lain. Pada awalnya Qais dan para binatang itu tak saling memahami bahasa masing-masing. Tetapi hari demi hari dengan bahasa isyarat, akhirnya saling memahami. Mereka menjadi keluarga.
Sepanjang mereka saling berbuat baik, saling memberi dan saling menolong, mereka tak akan saling menyakiti atau mengancam. "Siapa menyayang akan disayang". "Siapa yang merendahkan akan direndahkan". "Apa yang berikan, itulah yang kau terima". Begitu kata-kata bijak para Nabi dan para bijakbestari.
Sebuah hadits Nabi menyebutkan :
الخلق كلهم عيال الله واحبهم اليه انفعهم لعياله
Semua ciptaan Tuhan adalah keluarga Tuhan. Yang paling dicintai-Nya adalah yang paling banyak memberikan manfaat". Layla Menikah tapi Tetap Perawan.

Tetap Perawan.
Layla mendengar kabar kekasihnya di belantara hutan dan hari-harinya bersama para binatang itu. Dia menjerit keras lalu menangis. Air matanya terus mengalir, membasahi pipinya yang ranum itu. Bibirnya mendesahkan nama Qais. Dan sambil menangis dia kemudian menulis surat untuk Qais:
“Surat ini dari aku, seorang perempuan yang terpenjara di rumahnya,
Ya, seorang perempuan yg sepanjang hari hny duduk di rumah... Untukmu duhai kekasihku.
Apa kabarmu, kekasih? Bagaimana hari2mu, dg siapakah kau menjalani jam demi jam dlm hidupmu di lembah2 dan di gunung2 itu.
Aku kira kau lebih bahagia daripada aku.
Kau bisa bebas pergi ke mana saja, dg siapa saja dan bisa makan apa saja, sedangkan aku?
Ketahuilah kekasihku,
Aku tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya menunggu hari demi hari tanpa jiwa, sambil terus mengingatmu dan merinduimu.
Duhai kekasih jiwaku, yang hatimu bagai mata air Hidhir, mata air keabadian.
Aku masih seperti dulu.
Meski aku telah menikah, namun aku bersumpah hatimu selalu ada di hatiku, Meski aku tidur satu rumah dengan suamiku, tapi kepalaku tak pernah menyentuh kepalanya
"Permata di tubuhku" masih tersimpan utuh, bersih dn tak pernah disentuh tangan siapa pun. "Harta karunku" masih terkunci rapat dan tak pernah dibuka oleh tangan siapa pun.
Bungaku di taman masih tetap kuncup dan blm merekah, sebagaimana dulu. Duhai dikau yg jernihnya bagai air mata air Khidhir. Kemarilah, kasih tuangkan air keabadian Khidhir. Jauhku darimu tak akan lama lagi.”

Balasan surat Majnun
Penulis lain menyampaikan kata-kata Layla dalam sumpahnya, “Aku bersumpah kepadamu, duhai kekasih hatiku, Aku mengikat kuat hatiku untuk mencintai Qais seperti cintaku kepada diriku sendiri. Aku kerahkan diriku menjaga seluruh ruhku dari sentuhan orang lain.” Dan akhirnya ia mengatakan :
وَبِهَذَا اْلعَهْد الَّذِى أَرْتَبِطُّهُ بِكَ قَدْ قَطَعَتُ عَهْدِى مَعَ مَنْ أَذَاكَ. وَكَفَانِى مَا فِيهِ ذَاكِرَةٌ لِقِيَامَتِى
"Dengan sumpah/janji yang aku ucapkan, maka telah putuslah janjiku dengan orang selain dirimu.
Sumpah-janjiku menjadi simpanan sampai hari kematianku.” Qais membaca surat itu berkali-kali. Kadang ia tak percaya surat itu dari kekasihnya, Layla. Beberapa kali tangannya mengusap-usap matanya, takut salah mata melihat. Tetapi kata-katanya dan bahasanya sangat dia kenal. Surat itu benar dari Layla. "Ya ini kata-kata dan bahasa Layla. Aku sangat mengenalnya". Hatinya terus berdebar-debar dan berdegup-degup kencang. Dan dia bingung bagaimana akan membalasnya, bagaimana kata-kata yang akan ditulisnya. Dia segera mencari bahan apa saja yang ada di sana untuk bisa ditulis dan dengan alat apapun yang bisa untuk menulis. Dan kemudian dia  mulai menulisnya satu baris demi satu baris dan mengulang membacanya, agar tidak salah.
“Ini surat dariku, aku yang gelisah dan gila, untukmu, duhai engkau yang ada di lubuk jiwaku. Engkau adalah mahkota di kepada selain aku dan kekayaan di tangan orang lain. Aku hanyalah debu di lembahmu. Bila engkau menuangkan untuk air pertemuan, engkau membawakan kembang dan menerbitkan musim semi. Bila aku memperolehmu selain berpisah jauh darimu, bumi ini tak akan menumbuhkan apa pun selain debu. Lihatlah, aku adalah tawanan yang terbelenggu
Tampak jelas bahwa Layla adalah seorang perempuan yang meskipun secara hukum sudah menikah dengan seorang laki-laki, tetapi secara hakikat dia masih tetap perawan, tetap perempuan gadis. Atau dalam bahasa populer masih suci. Nizami sang penulis mengatakan, “Lakinnaha Tazhillu ‘Adzra” (tetapi Layla tetap perawan).” Demikian juga Qais, si Majnun itu, tetap lajang. Ia
Dr. Muhammad Ghanimi Hilal dalam bukunya yang terkenal "Al-Hayah al-‘Athifiyyah Baina al-’Udzriyyah wa al-Shufiyyah" menginfomasikan kepada kita bahwa para penulis kisah Layla-Majnun sepakat bahwa:
“Sesungguhnya Layla tetap perawan sampai akhir hayatnya.” Nizami bercerita bahwa sesungguhnya suami Layla, Ibn Salam, pernah suatu saat memukul Layla, karena ajakannya untuk berhubungan intim ditolak isterinya itu. Layla tak menangis, meski sakit. Tetapi hatinya tak rela. Dengan tenang dia kemudian bersumpah di depan "suaminya" itu untuk tidak akan menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki selain Qais, bahkan meski dipaksa dengan cara apa pun, dia siap untuk mati. Dan Ibnu Salam hanya bisa memandanginya dan mengawasi saja. Sementara Layla tetap mencintai Qais. Ia juga mengirim surat kepada kekasihnya seraya mengabarinya bahwa ia masih tetap suci sebagaimana dahulu kala.
Tampak jelas bahwa Layla adalah seorang perempuan yang meskipun secara hukum sudah menikah dengan seorang laki-laki, tetapi secara hakikat dia masih tetap perawan, tetap perempuan gadis. Atau dalam bahasa populer masih suci. Nizami sang penulis mengatakan, “Lakinnaha Tazhillu ‘Adzra” (tetapi Layla tetap perawan).” Demikian juga Qais, si Majnun itu, tetap lajang. Ia
Dr. Muhammad Ghanimi Hilal dalam bukunya yang terkenal "Al-Hayah al-‘Athifiyyah Baina al-’Udzriyyah wa al-Shufiyyah" menginfomasikan kepada kita bahwa para penulis kisah Layla-Majnun sepakat bahwa:
 “Sesungguhnya Layla tetap perawan sampai akhir hayatnya.” Nizami bercerita bahwa sesungguhnya suami Layla, Ibn Salam, pernah suatu saat memukul Layla, karena ajakannya untuk berhubungan intim ditolak isterinya itu. Layla tak menangis, meski sakit. Tetapi hatinya tak rela. Dengan tenang dia kemudian bersumpah di depan "suaminya" itu untuk tidak akan menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki selain Qais, bahkan meski dipaksa dengan cara apa pun, dia siap untuk mati. Dan Ibnu Salam hanya bisa memandanginya dan mengawasi saja. Sementara Layla tetap mencintai Qais. Ia juga mengirim surat kepada kekasihnya seraya mengabarinya bahwa ia masih tetap suci sebagaimana dahulu kala.

Kematian Layla
Ada kontroversi dari para penulis Kisah Cinta Abadi Layla-Qais atau Layla-Majnun ini. Siapakah yang lebih dulu mati/pulang: Layla atau Qais? Tetapi cerita yang populer menyatakan bahwa Layla lebih dulu meninggal dunia sebelum kemudian dalam bilangan hari, Qais atau Majnun, kekasihnya, menyusulnya.
Dikisahkan: Musim panas kembali tiba, ranting-ranting pepohonan meneteskan merah darah. Daun-daun berguguran diterjang angin kencang yang membawa panas. Taman-taman bunga tak lagi menebarkan aroma wangi bunga melati, tak lagi merekahkan senyum kegembiraan dari bibir-bibir merahnya. Taman itu menjadi sepi dan sunyi, bagai malam dini hari. Rembulan di langit biru beringsut kembali ke titik bulan hilal lalu lenyap, saat fajar mengintip bumi.
Malam itu Layla diserang demam. Tubuhnya panas.. Embusan nafasnya terasa hangat. Tenaganya tak lagi kuat membawa barang meski secangkir berisi teh. Ia hanya bisa beristirahat di tempat tidurnya tanpa bisa ke mana-mana. Ia seperti merasa malaikat Izrail akan segera datang menjemput dirinya. Ia ingin hanya bersama ibunya dan meminta tak ada orang lain masuk ke kamarnya. Ia ingin mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada ibu yang mencintai dan yang dicintainya itu.
Katanya : “Ibuku sayang, lihatlah, cahaya wajahku kini telah memudar, dan menjadi pucat-pasi, tak lagi bercahaya. Lilin-lilin di mataku tampak muram dan akan segera padam. Duhai Ibuku, aku mohon engkau mendengarkan wasiatku, sebelum aku pulang esok atau lusa;  bilamana aku mati, kenakan aku baju pengantin yang paling bagus. Jangan bungkus aku dengan kain kafan. Carilah kain berwarna merah muda, bagai darah segar seorang syahid (martir). Lalu riaslah wajah dan tubuhku secantik mungkin, bagaikan pengantin yang paling cantik di seluruh bumi. Alis dan bulu mataku ambillah dari debu yang melekat di kaki kekasihku, Qais. Dan jangan usapkan ke tubuhku minyak wangi kesturi atau minyak wangi apa pun. Usapkanlah dengan air mata Qais, kekasihku.
Sang ibu mendengarkannya dengan sepenuh jiwa, sambil matanya mengembang basah dan menetes air deras. Layla masih meneruskan pesannya: Sesudah aku mengenakan baju pengantin itu dan menjadi sangat cantik dan anggun, aku akan menunggu Qais, sang pengembara yang luka itu datang.
Usai mengucapkan semua itu, akhirnya Layla menghembuskan nafas terakhirnya. Wajahnya berbinar-binar, memancarkan cahaya dan dengan senyuman yang paling manis. Ia sangat yakin dirinya akan bertemu Qais dan menjadi pengantin di sampingnya, lalu menyatu dalam cinta tak terbatas.

Qais menyusul Layla
Manakala Qais mendengar berita kematian kekasihnya itu, ia menjerit keras sekali, suaranya terdengar oleh para Malaikat di langit. Ia meraung-raung untuk waktu yang panjang. Kawan-kawan setianya, para binatang, juga ikut menangis tersedu-sedu. Mereka mengeliling dalam duka nestapa.
Qais pingsan, tak sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama. Teman-temannya kaget sambil menatap Qais tanpa mengerti apa yang nenyebabkan Qais jatuh. Sesaat sesudah itu Qais siuman.  Dia bergegas menuju ke pemakaman Layla diiringi kawan-kawan setianya; para binatang itu. Di atas pusara Layla, dia merebahkan tubuhnya, mendekap tanah merah basah yang menggunduk itu, sambil menangis tak henti-hentinya. Teman-teman setia, para hewan itu menungguinya dengan mata yang basah. Mereka ikut bersedigh hati.
Beberapa saat kemudian Qais sadar. Dia duduk menghadap arah wajah Layla, lalu berbicara kepada kekasihnya itu dengan wajah sendu:
“Duhai belahan jiwaku, duhai jiwaku, duhai cintaku, bagaimana keadaanmu di bawah tumpukan debu ini.
Bagaimana engkau di dalam kegelapan kubur ini.
Meski aku tak lagi bisa memandang wajahmu,
tetapi seluruh jiwamu memenuhi ruhku. Meski engkau jauh dari pandangan mataku, namun aku melihatmu dengan mata jiwaku, mata hatiku.
Dan meski engkau telah pergi, namun lukamu ada dalam jiwaku.” Sesudah mengatakan itu, Qais diam untuk selama-lamanya. Tubuhnya tak lagi bergerak. Kawan-kawannya mencoba menggeraj-gerakkan, tapi Qais yang mereka cintai itu diam membisu. Mereka serentak menangis dengan bahasa mereka masing-masing. Qais al-Majnun itu pulang menyusul Layla, belahan jiwanya dengan membawa cintanya yang abadi kepada Layla.

Pohon pusara berpelukan
Berita kematian Qais itu menyebar ke seluruh penjuru desa itu dan menciptakan kesedihan publik luas. Mereka berduka cita mendalam, seraya mendoakan husnul khatimah dan bertemu kekasihnya: Layla.
Mereka lalu membawa tubuh Qais untuk dimandikan dan dishalati. Sesudah itu mereka berunding tentang di tanah mana Qais akan dikuburkan. Mereka sangat mengerti hubungan cinta Qais dan Layla. Lalu mereka sepakat bulat untuk menguburkan Qais di samping Layla, berdampingan tanpa jarak yang memisahkan. Di atas kuburan Laela dan Qais mereka menanam pohon wangi.
Acara penguburan Qais dihadiri oleh hampir seluruh penduduk desa. Selain mereka, hadir juga teman-teman Qais dari hutan. Wajah-wajah mereka sendu. Sebagian tersedu sedan. Suasana perkabungan berlangsung berhari-hari. Bunga warna warni yang wangi memenuhi kuburan dua manusia yang saling mencinta itu.
Waktu terus berjalan. Kisah cinta mereka dibicarakan di mana-mana selama berbulan-bulan. Beberapa waktu kemudian, di atas pusara itu tumbuh dua batang pohon wangi. Dan dalam beberapa waktu kemudian ranting dan daunnya pohon itu berpelukan dan menyatu. Di atas nisan kuburan itu tertulis : “Di sinilah berbaring dua jiwa yang sunyi, yang saling mencinta dan saling merindu dalam kesetiaan penuh dan tulus. Dua jiwa menyatu dalam cinta abadi. Mereka bertemu di surga keabadian”.

Cinta Platonis
Kisah cinta romantis (al-Hubb al-Udzry) Layla dan Qais di atas kemudian menginspirasi para sufi falsafi. Layla dijadikan simbol Sang Kekasih dan Keindahan, sedangkan Majnun sebagai simbol para pencari atau para pengembara (al-salik) dan para pencinta (al-muhibb), si perindu (al-‘Asyiq). Perjalanan menuju penyatuan antara Salik dan Sang Kekasih, ditempuh dan dilalui seperti perjalanan cinta Qais dan Layla. Cara pandang demikian inilah yang kemudian disebut sebagai “Cinta Platonis”, sebuah cinta kepada Tuhan dalam pandangan/filsafat Platon, filsuf terbesar dari Yunani, murid Socrates dan guru Aristo itu.
Para sufi besar, seperti Abu Yazid al-Bisthami, al-Hallaj, al-Ghazali, Ibn Arabi, Jalal al-Din Rumi, Samnun al-Muhibb, Zhunnun al-Mashri, Al-Sirr al-Saqathi, Farid al-Din al-‘Atthar, Ibn al-Faridh dan lain-lain menempuh dan mengarungi jalan itu.
Dengarlah kata-kata Ibnu Arabi, sufi pencetus gagasan Wahdah al-Wujud (Kesatuan Eksistensi ini:
 “Sesungguhnya cinta tulus antarmanusia adalah awal perjalanan menuju pengenalan kepada Tuhan, memasuki pengalaman mencintai-Nya dan limpahan anugerah dan kemurahan-Nya.” Wallahu A’lam.
Para sufi Islam memperkenalkan cara pandang ini dalam karya-karya sastra filsafat mereka. Cinta Ketuhanan ini telah muncul sejak zaman Platon kemudian dikukuhkan kembali oleh mazhab Plotinus yang disebut Neoplatonisme. Itulah sebabnya mengapa kisah cinta Layla-Majnun yang pada awalnya dikenal sebagai cinta romantik, di tangan para sufi falsafi kemudian dikenal dengan sebutan Cinta Platonis.


Husein Muhammad (Buya Husein).
Sumber Akun Instagram Abuya.

Komentar

  1. Lagipula mengapa kau menyerahkan hatimu kepada mawar yang merekah tanpamu, sedangkan hatimu terjatuh ke dalam lumpur? Kata seseorang dalam bukunya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIR TUHAN - FNP

Terimakasih

Ayo ! Budayakan Membaca