Ayo ! Budayakan Membaca




Ayo ! Budayakan Membaca

Membaca adalah suatu cara mendapatkan informasi yang di tulis. 
Membaca perlu ditekankan kepada setiap individu sejak dini. Karena, informasi yang paling mudah untuk kita peroleh adalah melalui bacaan, baik koran, majalah tabloid, buku-buku, dan masa kini dimudahkan dengan gadget atau smartphone dan media sosial lainnya. Minimnya budaya membaca di kalangan remaja indonesia perlu di perhatikan. Problema tersebut, tidak bisa kita anggap remeh, karena besarnya rasa cinta membaca sama dengan kemajuan. Artinya, suatu tingkatan minat baca seseorang menentukan tingkat kualitas serta wawasanya. Kebiasaan membaca perlu ditingkatkan terutama kepada para remaja Indonesia yang disebut Generasi Milenial dan Generasi Z karena dalam proses belajar mengajar, mustahil berhasil tanpa adanya “membaca”.
Tak peduli seberapa canggih dunia masa kini, Buku akan selalu punya daya tariknya sendiri, bagi penulis, Buku adalah sahabat yang paling Istimewa. meski sekarang buku sudah mulai ditinggalkan. Fisiknya yang mungkin sudah tidak menarik dan tidak secanggih teknologi yang menjadi sahabat orang-orang.
Zaman yang terus berkembang beriringan teknologi yang semakin canggih, dengan warna dan bentuk yang bisa dilihat mata, membuat orang berpindah dari yang hanya sekedar tulisan. Kumpulan kata-kata yang sekilas terlihat biasa saat dipandang mata, jadi tidak membangkitkan selera lagi. Mereka yang baru lahir di generasi serba teknologi ini akan merasa asing dengannya. Buku sudah tidak menjadi teman tidur lagi. Buku sudah tidak menjadi teman saat senggang. Hanya berdiam diri di pojok rak, menunggu tangan seseorang membukanya, sekarang sudah berbeda Generasi Milenial dan Generasi Z lebih mengenal gadget atau smartphone bukan untuk melarang menggunakannya akan tetapi harus ada batasnya terutama Generasi yang akan menjadi Penerus untuk Bangsa ini, dan melalui tulisan ini Penulis mengajak Ayo ! Budayakan Membaca Buku.

Orang-orang yang jarang baca buku adalah orang-orang yang paling merugi. Bukan jadi berlagak kutu buku, tapi membaca buku adalah surga. Apakah kalian tidak merasa demikian?
Kominfo mengatakan, pada data UNESCO 2017 Indonesia berada pada urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang di Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca! Dengan rendahnya tingkat literasi di Indonesia, rugi rasanya jika para penulis di Indonesia dengan sejuta bakatnya, tidak dimanfaatkan karyanya.

Tidak perlu buku-buku ‘berat’ yang menguras pikiran, tapi buku-buku sastra ringan. Atau novel-novel fiksi dan romansa. Membaca tidak akan pernah rugi. Keuntungan paling kecil adalah—setidaknya—kosakata dalam berbahasa akan terus bertambah. Otak kita akan mempelajari dan terbiasa dengan pengguanaan kosakata baru.

Menurut K.H Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur dikenal sebagai tokoh peletak dasar toleransi di Indonesia. Semasa hidupnya Gus Dur memiliki banyak warisan yang berkaitan dengan perjuangan hak-hak hidup kalangan minoritas.
Membaca Buku adalah Kunci Toleransi ~ Gus Dur
meski berasal dari keluarga priayi organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama dan merupakan cucu dan anak dari tokoh kiai besar, Gus Dur tidak pernah merasa dirinya lebih benar.
Lahir dari lingkungan santri yang kental dan menguasai pemahaman pemikiran islam yang luas, namun pemahaman Gus Dur tersebut tidak pernah digunakan untuk melukai kelompok agama lain.
Hidup di lingkungan pesantren –sebagai cucu ulama besar KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) juga Pesantren Tebu Ireng di Jombang, Jawa Timur– tidak serta-merta menghalangi minat baca Gus Dur. Tersedianya buku (berbagai jenis) dalam jumlah banyak, ditambah lingkungan keluarga yang mendukung membuat minat membacanya tersalurkan.
Ketika menempuh pendidikan di Yogyakarta, tahun 1950, di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan dan nyantri di Pesantren Al-Munawwir, Gus Dur semakin menikmati hari-harinya bersama buku. Dikisahkan Greg Barton dalam Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, Yogyakarta menjadi tempat Gus Dur menemukan berbagai jenis tema buku yang diinginkan. Ia bahkan sering mengunjungi toko-toko buku langganan mahasiswa UGM.
“Sebagai seorang remaja, ia mulai bergulat dengan tulisan-tulisan Plato dan Aristoteles, serta pemikir-pemikir penting dari cendekiawan Islam abad pertengahan,” tulis Barton.
Kisah lain diceritakan Munawar Ahmad dalam Ijtihad Politik Gus Dur: Analisis Wacana Kritis. Ketika di Yogyakarta itu, Gus Dur bertemu dengan seorang guru bahasa Inggris bernama Rufi’ah. Selain diajarkan bahasa, Gus Dur juga dikenalkan dengan buku-buku para pemikir modern Barat. Sebut saja mahakarya Karl Marx, Das Kapital; novel-novel William Faulkner; filsafat Plato, Thalles; Little Red Book karya Mao Zedong; dan What Is To Be Done nya Valdmir Lenin.
“Ditunjang dengan kemampuan ingatannya yang luar biasa, Gus Dur mampu membaca beragam macam buku dalam jumlah besar dalam satu malam,” ujar Munawar.
Gus Dur menemukan pandangan baru tentang masalah-masalah kebangsaan dari buku-buku tersebut. Bahkan, kata Barton, Gus Dur gemar membaca biografi tokoh-tokoh besar Amerika, utamanya Abraham Lincoln, Harry S Turman, dan Franklin D Roosevelt. Cara mereka menghadapi berbagai persoalan politik di negerinya membuat Gus Dur kagum.
Gus Dur (juga Soekarno) adalah inspirasi bagi generasi bangsa kita untuk membudayakan membaca. Dari mereka kita tahu bahwa kemampuan dan kemauan membaca akan mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan (skill) seseorang.
Kebiasaan membaca pada dasarnya diharapkan mengantar masyarakat kita memiliki cara pikir yang benar, punya gagasan strategis dan tidak mudah meributkan (bertengkar pada) hal-hal sepele sebab beda perspektif.
Bagaimana masih enggan untuk membaca buku gaes ? Masih nyaman menjadi orang yang merugi ditengah banyak kesempatan yang ada. Ah kamu, Ayo Budayakan Membaca!
Itu sedikit kisah dari tokoh yang saya kagumi, Beliau adalah Panutan, Guru, Inspirator bagi penulis, dan ada lagi kisah seseorang yang sosoknya penulis kagumi juga ialah Sang Proklamator Sejati dan Perjuangannya yang Terukir Abadi sampai masa kini, Beliau adalah Presiden pertama yaitu Ir.Soekarno (Bung Karno).
Bung dan Buku
Rachmawati Sukarnoputri acapkali melihat pemandangan ganjil saat masih tinggal di Istana Negara. Kamar tidur ayahnya – Presiden Sukarno – penuh dengan buku-buku. Buku menjejali tiap sudut ruang. Tempat tidur, kursi, dan kamar mandi berubah fungsi menjadi perpustakaan.
Berapa jumlah koleksi buku Bung Karno? Ketika diasingkan pemerintah Belanda ke Bengkulu jelang kedatangan Jepang, Sukarno memiliki 12 peti buku koleksi. Dalam buku Kisah Istimewa Bung Karno, rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu menyimpan sebanyak 400 buku. Seluruhnya berbahasa Belanda meliputi genre politik, seni, agama, sastra, dan kesehatan.
Pada 1968, Sukarno dipaksa rezim Orba meninggalkan Istana. Kolonel Maulwi Saelan - salah seorang ajudan Sukarno – melakukan inventarisasi terhadap koleksi buku di Istana. Dalam buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, Maulwi mencatat koleksi buku Sukarno yang berjumlah hampir seribu buah
Sang Putra Fajar percaya, dengan membaca, pengetahuan kita akan bertambah. Dan dengan pengetahuan, setiap manusia akan dapat meningkatkan nilai kulturnya sebagai makhluk berakal dan berbudi.

Membaca Buku adalah Membuka jendela dunia
Terdengar sederhana memang, tapi makna dari membuka jendela dunia ini sejatinya memiliki makna yang sangat luas. Gambaran menarik tentang pemaknaan itu pernah disampaikan Adew Habsta, Sekretaris Jenderal Asia-Africa Reading Club.
Habsta bilang, membaca adalah senjata paling ampuh untuk memetakan diri, menempatkan minat, memicu pengembangan potensi, hingga memotivasi diri demi meraih prestasi.
Tapi, Bung Karno ini bukan kutu buku biasa. Bung Karno membaca segala hal. Dan enggak cuma asal baca, sebab Bung Karno tahu cara mengatur menu bacaannya dengan tertib, runut, dan berakar pada khazanah budaya bangsa.
Pentingnya membaca juga pernah disampaikan Bung Karno dalam pidatonya di Universitas Gadjah Mada (UGM), 19 September 1951. Kala itu, Bung Karno mengatakan, membaca adalah dasar dari kehidupan. Yang terpenting tetaplah penerapannya.
"Bagi saya, ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk mengabdi kepada praktik hidup manusia, atau praktiknya bangsa, atau praktik hidupnya dunia kemanusiaan."
Semangat Bung Karno dan Gus Dur menerapkan budaya literasi nampaknya tidak terwariskan dengan baik kepada generasi masa kini. 
Jadi, siapa yang masih malas baca? Ingat lho, masa depan bangsa ada di tangan kita. Mau membangun bangsa ini dengan apa kita kalau bukan dengan pengetahuan?

Semoga sekedar tulisan yang sedikit ini mampu menumbuhkan jiwa kesadaran kita semua untuk berfikir bahwa Budaya Membaca Buku itu harus dilakukan dan diterapakan dalam kehidupan. 

Semoga Bermanfaat.

Ayo Budayakan Membaca Buku. 

Salam,


Sahabat Buku.
Fuji Nur Pauziah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIR TUHAN - FNP

Terimakasih